English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail
Home » , , » BAKMI MIE-KITA UTAN KAYU, WARALABA NAN BERSAHABAT

BAKMI MIE-KITA UTAN KAYU, WARALABA NAN BERSAHABAT

Written By RizalAbubakar Sidik on Rabu, 20 Januari 2010 | 09.05

Menu Masakan si Ahli Teknik yang 
Sekali Dicoba Langsung Disuka

Perjalananku kali ini sedikit diganggu dengan rusaknya si jago ngebut motor biruku, Honda CB 1972 125 cc yang kain hari kian cantik saja kendaraan antik itu... Setelah masuk bengkel yang profesional dan pelayanannya sangat menjanjikan, kelanakuliner berjalan dan mencari kendaraan umum, bis Metromini jurusan pramuka, menuju kantor Is Plaza RM Gurih.

Sambel Sambil jepret sana, jepret sini dengan kamera digitalku, tahu-tahu seorang pemuda memberikan salam tersenyum sayapun membalas senyumnya dan memutar memori otakku mencoba mengingat dimana saya mengenalnya. Teman kampuskah? Teman sekolahkah atau orang yang berkunjung ke rumahku untuk survey kredit bank, atau orang asuransi pendidikan yang sering mengontakku?

Alhamdulillah, dengan sikap sesopan mungkin akhirnya saya teringat kembali, rupanya dia teman adik kandungku. Aahhh... forget it lah, yang penting sekarang ada teman dan dengan baik hatinya dia tawarkan  mengantarku ke kantor Is Plaza. Namun aku akhirnya minta diturunkan di perapatan Utankayu, dan meneruskan berjalan kaki dengan niat canvasing (susur jejak kuliner baik berjalan kaki maupun berkendaraan, yah ini kan kelana kuliner yang sebenarnya, kan?) Perjalanan meniti pinggiran jalan Utankayu menuju tembusan jalan ke Pramuka Raya itulah, aku melihat satu ruko yang tampak masih baru. Bakmi Mie-Kita. Sepertinya asyik juga dan lumayan akrab di telinga nama resto ini.

Waktu menunjukkan pukul 14.17 WIB dan langsung saja masuk setelah melewati interior ruangan yang dominan kuning muda dan hijau itu yang juga berhiaskan lukisan neo-klasik karya seniman Jogja. Di ujung meja dapur, saya mencoba mencari informasi tentang sang pemilik dan tepat di bagian bawah meja kasir sekaligus loket layanan pesan, sebuah poster informasi waralaba Bakmi Mie-Kita terpampang manis (satu trik pemasaran yang cukup cerdik, untuk menangkap peluang pasar baru - setidaknya itulah yang dikatakan sang pemilik waralaba Petrus). Tertulis di poster itu "Peluang Usaha (Busines Opportunity) Waralaba Bakmi Mie-Kita, yang ditawarkan ke seluruh wilayah Indonesia. Makanan Sehat, Enak dan Murah. Tipe waralaba, kelas "Food Court - Modal hanya 77jt", "Mini Resto - Modal hanya 160jt", "Resto - modal cuma 175jt", BEP (Titik Balik Impas) 12 s/d 16 bulan. Hubungi Petrus/Nadir No. Telp 08588.3262.658 atau 0856.9292.5050."

Setelah beberapa waktu, kontak pertama saya justru langsung dengan sang pemilik waralaba pak Petrus, tapi belakang waktu saya tahu bahwa ternyata saya berhubungan dengan Nadir, sang penerima waralaba dan pemilik ruko di Utankayu. Kami pun membuat janji bertemu dan saya masih beranggapan akan bertemu dengan pemilik waralaba, Petrus Puspo Sutopo.

Kurang dari satu jam, dan nyaris saja saya tenggelam dalam tidur di kursi makan yang berbentuk sofa tinggi RM Bakmi Mie-Kita, saat bertelepon ria dengan kolega, akhirnya datang juga, Nadir. Walaupun saya sudah tahu, lelaki Arab (ganteng eh... jangan ah nanti GR dan salah tafsir lagi) ini, tapi saya mencoba "melucu" menanyakan nama dirinya, "Dengan pak Petrus?"  (emang ada yah orang Arab yang namanya Petrus? Kalo di "sana" ya pastinya ada lah!...Sayangnya saya lupa mematikan HP saya yang masih OL dengan kolega... ih nggak etis buanget deh gue!), "Saya Nadir, pak," jawabnya menerima jabatan tangan perkenalan diri saya. (by the way... aku jadi ingat satu istilah... sampai ke titik nadir... titik terendah di horizon langit... so what's the meaning of Nadir?)


Setelah berkenalan dan berbincang dengan Nadir, lelaki keturunan Arab kelahiran Jeddah 28 tahun lalu ini, ternyata menyenangkan diajak berdiskusi. Menurutnya, dengan berwaralaba Bakmi Mie-Kita setidaknya keinginannya untuk berwiraswasta dan asyik duduk manis di rumah bisa dilakukan. "Tapi biarpun begitu seperti yang ditawarkan oleh franchisor, saya masih kepingin ikut nimbrung sibuk terjun ke bisnis usaha resto bakmi ini," ujarnya serius. Bujangan yang akan merencanakan menikah  dengan adik sahabat lamanya pada tahun depan ini menegaskan, justru dirinya memang mau bersibuk-sibuk ria untuk jadi pengusaha yang tahu banyak hal tentang bagaimana  memproduksi usaha resto bakmi.

Sebagai gambaran betapa rumit dan sibuknya usaha Bakmi Mie-Kita, jumlah sajian menunya saja hingga seratus lebih. Bisa dibayangkan, bukan bagaimana banyaknya SOP (bukan semacam sop buntut, coy... tapi Standard Operation Procedure - alias Prosedur Operasi Baku) dan beragamnya suplay bahan baku menu masakan. "Wajar saja Mas, kalau masalah product knowledge, sebaiknya ditanyakan langsung kepada pak Petrus... Dia yang lebih paham dengan segala macam menu itu," ujarnya merendah.

Bagi saya bukan itu saja masalahnya, namun yang paling penting adalah bagaimana seh sebenarnya rasa dari bakminya itu sendiri. Apa sama hebat dan lezatnya dengan sang legendaris Bakmi GM? Ah nggak usah kelamaan cerita... Kelanakuliner pun akhirnya mencoba semangkuk porsi Bakmi Komplet yang berisi PG (bukan Partai Golkar, tapi Pangsit Goreng), PR (juga bukan PuRel yang cantik tapi Pangsit Rebus, hehehe), ETM (yang ini juga bukan Etometic Teller Machine - maksa banget kan?- tapi Es Teh Manis). Dan sebagai hasilnya adalah ......................................... (bentar lagi asyik mengingat kenikmatan sensasi makan bakmi..... hmmmm) rasanya tak kalah dengan Bakmi GM (kenapa seh disebut Bakmi Gajah Mada? Emang bakminya segede-gede Gajah Mada... atau emang jaman dulu Gajah Mada doyan bakmi ya? Ahh gak jelas... Tapi konon menurut buku sejarah Indonesia, Bakmi GM dikasih nama seperti itu karena si pedagang bakmi dulu sekali awalnya dagang bareng Gajah Mada.... eh bukan maksudnya dagang di Jalan Gajah Mada... dasar beg*!)

Memang ada idiom di dunia "perbakmian" bahwa jadulbang (jaman dulu banget) patokan makanan bakmi yang enak adalah Bakmi GM, setelah beberapa tahun, muncul lah nama-nama mirip yang juga dikelola oleh warga Cina lainnya seperti Bakmi GK (lagi-lagi bukan Golongan Karya tapi Gang Kelinci). Bakmi GK ini pun juga begitu populer di kalangan masyarakat Jakarta, namun sedikit sekali yang tahu persis, bahwa Bakmi GK menggunakan B2 (alias bukan BlueBand tapi BaBi). lihat tulisan saya yang pertama kali di link kelanakuliner ini.

Kembali ke laptop, eh salah kembali ke pokok bahasan Bakmi Mie-Kita Utan Kayu. Resto Bakmi yang masih dalam pengawasan langsung Petrus (bukan Petrik dan juga bukan Petruk, apalagi Patrick Starfish temannya Spongebob Squarepants). Menurut pengakuan Petrus, usaha waralaba Bakmi Mie-Kita yang dikelolanya ini jelas berbeda dengan usaha waralaba lainnya yang sejenisnya. "Kebanyakan para pemilik waralaba bakmi lainnya itu, setelah mendapatkan uang investasi, maka mereka tidak memberikan yang intens dan berkelanjutan". Itulah sebabnya saya lebih mengutamakan para pelanggan, tambahnya, karena pada akhirnya yang menentukan adalah pasar.

Lelaki humoris yang penuh pengalaman pahit selama hidupnya di masa kecilnya ini menegaskan, bahwa tanggung jawab dirinya tidak berhenti setelah si pemilik modal menyerahkan uangnya membeli merk Bakmi Mie-Kita. "Seumur hidup saya membuka komunikasi, kapanpun mereka butuh saya untuk konsultasi usaha yang telah belasan tahun saya tekuni ini," ungkapnya sambil berpromosi. Kelanakuliner sendiri mengakui bahasa tubuh dan caranya berkomunikasi yang mampu meyakinkan orang lain untuk mau bekerjasama waralaba. Saya jadi ingat film klasik The God Father, dimana ada satu quote populer Marlon Brando dalam film itu, "I'm going to make him an offer he can't refuse."

Lelaki Petrus Puspo Sutopo memang jago bisa meyakinkan para mitra dan koleganya dengan prinsip belajar dari pengalaman, dan yang penting pertama kali adalah skill, kemudian kejujuran, keuletan, baru modal, demikian ungkapnya. Makanya tak heran jika akhirnya ia memilih untuk berwirausaha. dan mengembangkan usahanya dengan konsep waralaba dan kemitraan seperti BO (Business Opportunity). Seiring  itu ia juga mempunyai filosofi hidup yang ingin menolong orang. "Dari kecil Saya hidup banyak ditolong orang, maka Saya bercita-cita ingin menolong orang. Baik itu karyawan maupun para pemilik modal," tandas Petrus.

Pada kenyataannya, Petrus membuktikan hal itu dengan seringnya ia meningkatkan pembinaan  kinerja kepada para karyawannya yang sering dirolling ke setiap cabang yang berbeda maupun cabang baru. "Saya hanya mau memberikan bantuan tenaga kerja ahli (karyawan) saya yang telah lebih dari 6 bulan pengalamannya bekerja dengan saya, demi mempertahankan kualitas SDM di tiap cabang waralaba lain yang baru dibuka," pungkasnya.

Sekarang ini di Jakarta, setidaknya ada 5 cabang waralaba, mulai dari Salemba, Tebet, Kelapa Gading, Sunrise Garden, juga termasuk Bogor.

Bila Anda tertarik ingin merasakan nikmatnya ratusan pilihan menu Bakmi Mie-Kita, maka bisa langsung kunjungi Bakmi Mie-Kita Jl. Utan Kayu No. 106, Jakarta Timur atau menghubungi telepon
(021) 9704.3288 - 9704.3289
untuk pesan antar lokasi terbatas. Sedangkan pesan antaran radius lebih jauh dikenakan ongkos kirim Rp. 2.500,-


SidikKelana Rizal - dobeldobel.com



5 comments:

cv sMARTcOM mengatakan...

Bakat bisnis Petrus yang memang sudah terasah semenjak kecil, akhirnya terealisasi dengan usaha gigihnya merintis sebuah sistem bisnis, yang sekarang di bawah nama dagang Bakmi Mie-Kita.

Langkah memulai bisnis bagi kebanyakan orang bukanlah hal yang mudah. Banyak pertimbangan di sana sini, bahkan tak sedikit yang kemudian mengurungkan niat untuk membuka usaha. Namun tidak bagi Petrus Puspo Sutopo.

Bakat bisnis Petrus yang memang sudah terasah semenjak kecil, akhirnya terealisasi dengan usaha gigihnya merintis sebuah sistem bisnis, yang sekarang di bawah nama dagang Bakmi Mie-Kita. “Saya mentalnya gambling, memang mental yang diperlukan untuk menjadi pengusaha,” Petrus mengakui.

Penuturan tersebut dibuktikan dengan pengalamannya ketika merintis pertama kali bisnis tersebut. Ia memberanikan diri memulai bisnis hanya dengan modal Rp300 ribu sekitar 14 tahun yang lalu. Itupun pinjaman dari seorang teman. Apa yang dilakukannya? “Ketika itu Saya percaya diri masuk ke gedung Kompas untuk mengiklankan sistem bisnis dengan harapan ada yang tertarik untuk bekerjasama. Ya, modal utama Petrus ketika itu adalah sistem yang dikembangkannya dari pemikiran dan pengalamannya selama bertahun-tahun.

Gayung pun bersambut. Bisnis makanan yang selalu dicari orang jadi pilihan. Untuk pertama kali, sistem tersebut diterapkan pada bisnis makanan Bakmi Majapahit yang berlokasi di Mall Taman Anggrek dan kemudian Bakmi Safari 88 di Taman Safari Cisarua. Setelah kedua usaha berkembang, Petrus pun kemudian memiliki ide untuk membangun usaha Bakmi bernama Bakmi Mie-Kita yang saat ini telah dikenal dengan salah satu bisnis waralaba di Tanah Air.

Waralaba Bakmi Mie-Kita dengan franchisee fee Rp35 juta ini mulai dipatenkan pada tahun 2005 saat ini memiliki total 13 outlet di berbagai daerah. Tiga diantaranya milik sendiri, sementara lainnya merupakan kerjasama dengan para franchisee. Memang bukan jumlah yang besar. Tapi untuk menjaga kelangsungan bisnis waralaba ini Petrus punya alasan. “Bagi Saya tak perlu outlet banyak-banyak. Tapi yang penting outlet yang ada kuat,” ujarnya. Untuk itu ia terbilang sangat selektif dalam menerima franchisee serta ketat memberlakukan sistem yang telah dibuat. Bahkan seperti permintaannya, 80% dari outlet merupakan milik franchisee sendiri (bukan sewaan,-Red). Jikapun sewa tempatnya adalah di mall sehingga memiliki pasar yang jelas. Bahkan di tengah perjalanan, jika franchisee terbukti menyimpang, tak segan-segan Petrus menutup gerainya.

Selain komitmen pada sistem yang kuat, menurut Petrus, membangun sebuah waralaba yang kuat juga membutuhkan keunggulan produk. Untuk itu tak heran jika Bakmi Mie-Kita memiliki lebih dari 100 pilihan menu dengan citarasa yang menurutnya khas.

Bisnis di bawah bendera PT Sistem Waralaba Bakmi Mie-Kita ini menurut Petrus juga cukup membanggakan dari sisi pencinta rasa. Sesuai dengan filosofi bisnis yang dibuat, yaitu ‘Sekali Coba Tetap Disuka’, sambung Petrus, pelanggan Bakmie-Mie Kita cukup konsisten. Secara angka, omset di Jakarta secara rata-rata bisa mencapai Rp30 juta per bulan. Diakui bahwa angka lebih fantastis justru ada di luar Jakarta. “Di luar Jakarta Kami jago. Balikpapan bisa mencapai Rp90 juta hingga Rp120 juta per bulan, sementara Pontianak bisa sampai Rp80-an juta,” Petrus menguraikan.

Semangat bisnis tampak semakin kuat ketika Petrus juga menawarkan berbagai jasa di bawah bendera yang sama. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Jika ada franchisee yang baru akan membuka usaha, Petrus juga menyediakan berbagai keperluan, mulai dari penyediaan mesin mie, menawarkan renovasi bangunan, disain interior, instalasi gas dan sebagainya.

Mochamad Ircham - JurnalBogor mengatakan...

Bakmi Mie-Kita Kembali ke Bogor

Pajajaran-Pengusaha mie kesohor, Petrus Puspo Sutopo menggaet Kadafi Yahya dan Madna Yahya, keduanya owner Grup Mirah Agung Perdana, membuka kembali Bakmi Mie Kita di Kota Bogor. Outlet yang berlokasi di lantas atas Papa Ron’s Pizza Jl. Pajajaran Kota Bogor ini merupakan outlet ke-23 di seluruh Indonesia.
Dalam waktu dekat, Petrus yang berbisnis mie dari 27 April 1993 pas dengan saat ultahnya ke-26 itu berobsesi membangun 165 outlet saat ia berusia 55 tahun. “Saya ini dulunya orang susah, hidup broken home dan diasuh di Panti Asuhan Vincentius Kramat Raya Jakarta Pusat, karenanya setelah otodidak, saya harus bangkit membangun imperium bisnis mie di tanah air dan mancanegara,” ungkap anak ketiga dari empat bersaudara yang sejak kecil membantu Mamanya, Johana Purnama Gunawati itu kepada Jurnal Bogor, Jum’at (26/12).
Dia pilih Bogor sebagai tonggak kebangkitan bisnis outlet mie khas melalui PT Sistem Waralaba Bakmi Mie Kita yang beraset miliaran rupiah itu, karena Bogor pernah menjadi lahan bisnisnya yang dibangun pada 2004, namun lantaran mitrausahanya lantas berpisah, kemudian mengembangkan bisnis mie sendiri, maka Petrus kini menggaet bos Hotel Mirah itu untuk kembali meraih sukses yang tertunda itu.
“Saya berharap, outlet Pajajaran Bogor ini balik modal cepat, sama dengan outlet lain yang mampu BEP 12-14 bulan, dan paling lama 17-23 bulan,” ungkap Petrus, kemudian menambahkan saat ini terdapat 25 outlet, 20 di antaranya memilih paket franchise Mini Resto seharga Rp 90 juta, tiga paket franchise Food Court seharga Rp 58 juta, dan dua paket franchise Resto seharga Rp 125 juta.
Pada 28 Desember 2008, Petrus akan membuka outlet ke-24 di Tebet, sedangkan outlet ke-25 dibuka di RS MH Thamrin Salemba pada 15 Januari 2009. Untuk menjadi franchisee dengan harga-harga itu, menurut Petrus, ia memberikan tambahan renovasi kecil menyangkut CI (Corporate Identity), equipment, standard operation & procedure, training, buku-buku menu, seragam karyawan, brosur lima rim, daftar menu bergambar, dan stiker.
“Juga kecap yang kami produksi sendiri di pabrik Tangerang,” kata Petrus yang kini memiliki karyawan total sebanyak 220 orang, sebagian besar direkrut dari masyarakat papan bawah, seperti mantan kondektur, tukang becak, pedagang kaki lima, dan mereka itu tak bisa baca tulis.
“Itu sengaja saya lakukan, karena saya dulu susah dan diasuh orang. Makanya, kini saatnya saya berbagi,” ujarnya.
Sementara itu, Hami Jaya, pengelola Bakmi Mie Kita outlet Pajajaran Bogor menambahkan, lokasi Bakmi Mie Kita itu dulunya dipakai untuk Terrace Dimsum & Chinese Food.
“Sekarang kami kembangkan Bakmi Mie Kita untuk membidik semua lapisan masyarakat. Istilah kami, rasa menunya kelas atas, tapi harganya pantas. Serba sepuluh ribu, di samping juga ada menu Oriental, seperti Udang Goreng Gandum, Cumi Lada Garam, Sapi Lada Hitam, dan Chicken Ungpao, serta aneka minuman kesehatan, mulai dari Juice Anti Diabetes, Anti Cholesterol, dll,” ujarnya.
Juice kesehatan itu, menurut Petrus, dibuat karena terinspirasi dari menu herbal sehat ala Profesor Hembing. “Saya juga pernah kerjasama dengan IPB untuk mengetahui toxin menu makanan, enzyme, higienitas, dan packagingnya,” pungkasnya.

Kurt Knispel mengatakan...

Profil Wirausahawan Petrus Sutopo

Tahun 2009 bakal diwarnai dengan tindakan pemutusan hubungan kerja, terutama di kalangan pekerja industri dan perdagangan, sektor usaha yang justru banyak menyerap tenaga kerja padat karya. Situasi yang menantang ini malah jadi peluang emas yang menjanjikan di mata Petrus Puspo Sutopo, owner Bakmi Mie Kita yang melebarkan sayapnya melalui program franchise PT Sistem Waralaba Bakmi Mie Kita bersama Kadafi Yahya dan Madna Yahya.

Bagaimana kiat usaha Petrus yang berobsesi membangun 165 outlet baru pada tahun Kerbau 2009, berikut petikannya:

Bagaimana Anda memulai terjun ke bisnis bakmi lewat jalur wirausaha ini?
Awalnya, saya ini kan orang broken home, ikut mama sendiri, yang sejak saya SD sudah jualan bakmi, saya aduk-aduk bahan mie itu hingga menjadi peluang emas yang menjanjikan. Dasar saya hobi makan mie ayam, akhirnya dari hobi itu saya kembangkan menjadi bisnis yang sifatnya komersial. Mulanya kecil-kecilan saja, setelah saya keluar dari Inti Salim Group gara-gara bos saya bilang bahwa yang ngasih makan saya adalah dia. Wah, terus terang saya tersinggung, karena sesungguhnya yang ngasih makan saya adalah Tuhan, bukan dia. Tuhan beri saya makan lewat dia, itu yang betul. Tapi, saya nggak mau debat, langsung saja keluar dari perusahaan itu.

Dari situ, Anda dapat modal dari mana?

Karena wirausaha ini saya mulai dari hobi, modalnya memang modal dengkul. Namun, dalam perjalanannya saya dapat modal dari H Firman Rp 200 juta. Saya bikin rumah produksi mie di Tangerang, berjalan sekitar 1999 sampai 2003. Di rumah produksi itu saya bikin aneka makanan yang bebas formalin, bebas bahan pengawet. Legalitas usaha itu saya buat pada April 1993, biar mudah mengingat, karena pas dengan ultah saya. Selain legalitas, saya juga mendapat sertifikasi halal food, tapi PT itu baru berdiri sejak tahun 2003.

Siapa saja pemegang saham perusahaan itu?

Awalnya, pak Firman masuk jadi pemegang saham. Tapi karena dia menyimpang dari aturan bersama, akhirnya sahamnya saya beli Rp 200 juta. Waktu itu, saya langsung beriklan di media massa, dan ternyata ada yang berminat membeli saham saya, yaitu Djaja Hendrawan. Maka, pemegang sahamnya sekarang adalah saya 60 persen, pak Djaja 40 persen. Jadi, dalam waktu relatif cepat, asetnya jadi 1 miliar. Itu terjadi pada tahun 2000, kini sudah ada yang berminat mau beli lebih dari 8 miliar, tapi saya berkeinginan untuk mengembangkan saja supaya bisnis Mie Kita ini kian berkibar dimana-mana. Obsesi saya umur 55 tahun, sama dengan pegawai negeri sipil, saya harus pensiun dan jadi passive income, tinggal menikmati hidup.

(bagian 1 dari 3 kometar)

Kurt Knispel mengatakan...

(bagian 2 dari 3 komentar)

Bagaimana nilai saham itu bisa meningkat, sementara outlet Mie Kita baru 25, setelah buka di kota Bogor, Tebet, dan RS MH Tamrin Jakarta?

Saya jualan skills, ini yang mahal dan bisa mencapai 60 persen. Kalau rumah produksi sih cuma bangunan tipe 21, tapi dua lantai, luasnya sekitar 120 meter persegi. Tapi skills, itu yang berharga bagi seorang wirausahawan.

Bagaimana Anda membangun skills itu sehingga bernilai tinggi?

Untuk tahu masakan mie yang berkualitas, saya tak segan-segan membayar jago-jago pembuat mie yang tangguh dan kesohor lebih dulu. Misalnya, Mie Alok, Mie Aheng. Mereka saya minta demo masak, dan saya bayar waktu itu Rp 1,5 juta, kalau uang sekarang bisa 15 juta sekali demo. Demikian pula ketika saya ingin tahu bagaimana bikin Es Doger yang enak, saya panggil pembuatnya yang handal, lalu saya suruh demo seharian, dan saya ganti biaya produksi dia sehari itu, karena saya suruh demo. Untuk tahu soal toxin, higienitas makanan, packaging, dan enzyme, saya belajar khusus di IPB. Perlunya supaya skills saya meningkat dan langsung bisa saya praktekkan lewat dagang mie.

Selain itu, anda juga berdagang aneka juice dan minuman kesehatan, serta packaging aneka buah. Bagaimana ide itu bisa muncul?

Saya suka baca-baca buku Prof Hembing, ahli herbal dan kesehatan alternatif lewat tumbuh-tumbuhan. Setelah saya cermati buku Prof Hembing, saya lalu berdagang juice anti diabetes, dengan komposisi bahan herbal yang saya pelajari dari bukunya. Juga ada juice anti kanker, juice anti kolesterol, juice anti darah rendah, juice anti hipertensi, juice anti ginjal, anti asam urat, anti batuk, TBC, sariawan, dan juice pelangsing. Itu semua saya lakukan dengan menyerap selera pasar, yang di satu sisi pasar menghendaki minuman segar, tapi juga menyehatkan. Bahannya dari aneka buah-buahan, sekarang juga saya paket, sehingga tinggal dibikinkan juice.

Apa menu unggulan yang anda jual untuk memenuhi selera pehobi kuliner?

Sebagai spesialis Chinese Food Modern, saya juga memasarkan Chicken Kungpao, Cumi Lada Garam, Udang Goreng Gandum dan lainnya yang saya kemas lewat program franchise, yaitu paket mini resto seharga Rp 90 juta, paket foodcourt Rp 58 juta, dan paket resto Rp 125 juta. Rata-rata outlet yang ada balik modalnya 6-12 bulan, paling lama tiga tahun.

Kurt Knispel mengatakan...

(bagian 3 dari 3 komentar)

Apa yang melatarbelakangi optimisme Anda?

Pertama, harganya pantas, serba sepuluh ribu. Tapi yang lebih penting lagi ialah seleranya yang mengikuti selera kelas atas, sehingga semua kalangan bisa menikmati masakan kami. Tujuan utama saya adalah mengembangkan Bakmi Mie Kita sebagai trademark di kota-kota seluruh Indonesia dan juga membantu orang susah, biar nggak susah seperti saya dulu, yang hidup di panti asuhan. Cara bantu saya ya dengan berwirausaha, karena di Indonesia masih sedikit orang yag mau terjun dan berjuang demi kesuksesan berwirausaha. Setelah umur 55 tahun, saya pensiun biar bisnis ini diteruskan oleh masyarakat luas dimana pun berada.

Di tengah kesibukan Anda membina hubungan baik dengan mitra kerja untuk mengembangkan sayap usaha itu, bagaimana anda membagi waktu buat keluarga, istri dan anak-anak serta kerabat lain?

Anak-anak sih saya arahkan untuk bisa berwirausaha, seperti ayahnya, juga setangguh neneknya. Juga istri saya, mereka semua saya kira mendukung dan bahu membahu berwirausaha untuk mencapai target itu. Dengan karyawan saya sering membina dan mengarahkan mereka. Maklum, kebanyakan karyawan saya adalah mantan tukang becak yang nggak bisa baca-tulis, mantan kondektur, anak-anak jalanan, mantan pedagang kaki-lima, yang semuanya punya karakter sendiri-sendiri. Seperti bekas tukang becak, kebiasannya molor, tidur melulu. Tapi, karena saya memang sudah komit merekrut mereka, ya saya sendiri yang menempanya, bahkan ada yang sampai dua tahun baru bisa mengikuti ritme usaha saya. Selebihnya waktu senggang saya gunakan untuk baca-baca buku guna menambah wawasan yang bisa mendukung usaha saya.



Biodata :

Nama : Petrus Puspo Sutopo

Tempat/Tanggal Lahir : Malang, 27 April 1967

Pekerjaan : Pemilik PT Sistem Waralaba Bakmi Mie Kita

Alamat : Jl. Pajajaran 26 Kota Bogor

Istri : Digna Winarti

Anak : Shoteby Anthony Winsen, Michelle Levine dan Nikola Tesla

Pendidikan :
• SD sampai STM di Jakarta di bawah asuhan Panti Asuhan Vincentius, Kramat Raya Jakarta
• Teknik Sipil Politeknik Pasar Minggu Jakarta
• Kursus Log Grader di Fakultas Kehutanan IPB
• Kursus Ilmu Toxin, Herbal, Enzyme, Higienitas dan Packaging dari IPB
Pekerjaan :
• Inti Salim Group
• Wirausaha sendiri
Warna favorit : Hijau

Masakan favorit : Mie ayam

Moto : Jadi garam dunia

Obsesi : Membantu orang susah



Sumber : Harian "Jurnal Bogor" edisi 29 Desember 2008

Weblink Terkait Dengan Profil Usaha

BeritaTerkini

Follow by Email

FORMULIR MITRA WARALABA

Klik di sini untuk pengisian formulir kemitraan usaha waralaba

Chat Box dengan Kami

Popular Posts

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. . profil usaha . - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger